Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
HomeMendengar Bisik NuraniJan 9, 2007
Mencoba menuliskan apa-apa yang tersembunyi dalam hati, yang tak terungkap. Terkadang ia mencari celah untuk berbicara, tapi mungkin dengan cara berbeda, sudut pandang berbeda. Namuk kesemuanya hanya menginginkan satu hal. KEJUJURAN!
Mungkin, hanya itulah yang ingin aku tuliskan.

Blog EntrySep 13, '11 4:02 AM
for everyone

Hi
Syabli, mari kita berpikir sekali lagi tentang hidup yang kita jalani ini. Kau lihat, kadang kita tidak lebih dari sekadar tanyangan prakiraan cuaca di teve, berubah sesuai musim. Sangat tergantung pada matahari, awan dan juga hujan. Tidakkah kau lihat, perubahan yang terjadi di diri kita lebih banyak bukanlah merupakan buah dari mimpi atau rencana yang kita buat, melainkan hanya sebuah ritme gelombang keadaan yang mengantarkan kita ke satu sudut pada satu saat, dan berpindah lagi ke titik lain di saat yang lain.

Ini membuat kita harus kembali berpikir, apakah kita benar-benar mengontrol diri kita? atau bahkan kita telah mengklaim bahwa kita telah bisa mengontrol dunia kita. Bisa jadi selama ini, kita hanya menipu diri kita, mungkin tidak hanya kau dan aku, tapi juga seluruh manusia. Kita menciptakan kalender dan tanggalan, kita menciptakan jam, bahkan kita juga bisa memprediksi kapan akan terjadi gerhana matahari. Tapi tahukah kau? kita sepertinya memang terlalu asyik mengelabui diri sendiri. Kita mengira bahwa kita bisa mengatur segalanya dengan tanggal, jam dan juga memo. Padahal kita tidak lebih dari sekadar tayangan prakiraan cuaca di teve.

Lalu apa sebenarnya yang kita kontrol, mungkin itu tanyamu. Sebenarnya aku juga tidak tahu. Apakah hati? sepertinya kita selalu kalah dengan nafsu. Apakah pikiran? sepertinya kita lebih banyak menyerah pada pesimistis, atau apakah raga? itu terlebih lagi hanya menjadi sebuah parasit yang butuh makan setiap enam jam.

Lalu apa...

Sepintas aku berpikir tentang Iman. Terbersit begitu saja ketika kau menanyakan 'lalu apa?'. Itu jawaban spontanitas yang aku bisa sebut. Tapi menurut Stephen King, kata pertama yang terlintas di kepalamu, bisa jadi adalah mutiara, maka tuliskanlah! Oleh karenanya, ayo kita coba lihat jawaban spontan itu.

Iman...ya...iman. Kita tidak bisa mengendalikan dunia, tapi kita mengelabui diri kita dengan menciptakan segala hal agar serupa bahwa kita memegang kendali seutuhnya. Bukankah itu sebuah pembohongan? aha... dan kebohongan adalah lawan dari pembenaran (baca; iman). Iman atau kepercayaan adalah usaha untuk terus percaya bahwa kita adalah bagian yang sangat kecil dari tata kehidupan ini, dan kita wajib percaya pada satu Dzat yang menguasai seluruhnya. Bagaimana? sudah lebih bisa dikaitkan?

Kalau belum, bagaimana kalau mencoba yang satu ini. Ketidakmampuan yang ditutupi adalah sebuah kebodohan yang ingin tampak pintar, atau kita bisa katakan 'sok'. Dan orang yang punya kecendrungan untuk bersifat 'sok' adalah orang yang tidak punya pegangan pada hakikatnya. Dia labil...benar-benar labi. Berbeda dengan Iman. Iman memberikan kita kesempatan untuk berpegang teguh pada satu sandaran abadi yang kokoh tak tergoyahkan, Ialah Allah Tuhan yang Maha segala-galanya. Dengan berserah diri sepenuhnya, maka kita telah melekatkan diri kita pada kekuatan yang tak berbatas.

Hehe, aku tidak tahu kenapa aku bisa berbicara dari Ujung Kulon sampai Gunung Kidul seperti ini kepamu. Aku hanya tahu bahwa aku sedang ingin berbicara, entah hatimu hari ini sedang penuh dengan kemurungan atau juga kebahagiaan. Semoga kau tidak bosan mendengar celotehanku. Tadinya aku berharap kau juga bisa mengungkapkan apa yang terjadi hari ini denganmu, tapi mungkin lain kali. Kau baca saja tulisan ini dan pikirkan apa yang terjadi denganmu hari ini, semoga ada sesuatu pemahaman yang muncul.

Sampai Jumpa,



The Whisper.


LATAR BELAKANG

Yayasan Islami Center Ibnu Abbas  Klaten mendirikan Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam yang bertujuan memberikan pendidikan Islam secara komprehensif dan terintegrasi untuk melahirkan lulusan yang mampu mengkonsep dan mengimplementasikan, serta merekayasa sosial dakwah dengan berbekal ‘ulumuddin dan mampu menyelesaikan problematika sosial sehingga keberadaannya benar-benar dirasakan oleh umat. Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam ini adalah sekolah tinggi dengan beasiswa penuh, bagi yang memenuhi kualifikasi.

 Deadline Aplikasi, 3 Juni 2011

 APLIKASI

 Pendaftaran dibuka dari tanggal 30 Mei sampai 03 Juni 2011 (empat hari saja).

 KRITERIA

 v  Lulusan SMA dan yang sederajat

v  Menguasai bahasa arab (lisan dan tulisan) dengan baik.

v  Siap mondok

v  Memiliki Hafalan Qur’an

 

BEASISWA

Bebas biaya pendidikan (SPP dan Uang gedung) selama 3,5 tahun. 

Bebas biaya Asrama 

 

 APLIKASI DOKUMEN

 1.       Fotokopi Akte kelahiran2 lembar

2.       Pas foto berwarna 3×4 lima lembar, 4×6 lima lembar

3.       Mengisi formulir pendaftaran (download di www.sekolahtinggi.ibnu-abbas.com)

4.       Ijazah terakhir

5.       Rekomendasi dari dua ulama

6.       Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp. 50.000,00

 

INFO LEBIH LANJUT

 Kunjungi situs www.sekolahtinggi.ibnu-abbas.com atau facebook: syabli muhammad


Blog EntryOct 4, '10 10:39 AM
for everyone
Bismillahirrohmanirrohim...

Saya memulai tulisan ini dengan sebuah harapan. Harapan agar kita bisa mengenal sejatinya diri kita. Mengenal pelupuk terdalam dalam intisari kehidupan kita. Sebuah harapan agar kita bisa menemukan lubuk paling inti dari kehidupan yang kita jalani hingga hari ini –terutama untukmu wahai kader dakwah.

Aku mengkhususkan tulisan ini untuk yang telah mengenal dakwah, terjun dalam—atau paling tidak mengidentikkan dirinya— dalam dinamikanya. Karena, aku telah menjadi bagian di dalamnya sekian tahun, namun aku belum juga bisa menjadi batu bata yang membaguskan istana itu. Jauh dan masih jauh. Tapi saudaraku, tulisan ini bukanlah sebuah keluh kesah atas ketidak berdayaan, melainkan sebuah usaha merekam jejak atas pemahaman baru, paradigma baru dan juga cara baru bercermin yang hinggap di dalam guguran detik, jam dan hari bersama Jama'ah ini.

Saudaraku, hari ini aku dikejutkan lagi dengan pertanyaan sejauh mana saya, kamu, kita telah benar-benar mengenal da'wah ini?. Sebuah buku yang telah lama aku dengar, telah lama aku tahu—tapi belum pernah ku baca—menggodaku dari rak buku perpustakaan. Memoar Hasan al-Banna—untuk dakwah dan para da'inya—.

Jujur saudaraku, buku itu menamparku dengan begitu telak. Membekaskan merah di dalam hati dan pikiranku.

Kemana saja aku selama ini?

Terus terang, ini juga merupakan sebuah jawaban lain atas kegelisahanku beberapa waktu ini. Kegelisahan tentang identitas keislaman. Suasana Kartasura membuat sebuah kesadaran baru dalam paradigma keislaman saya. Banyak pelajaran-pelajaran dasar dalam tarbiyah yang baru bisa saya pahami kedalaman maknanya di sini.

Saya mencoba melihat tulisan-tulisan saya terdahulu, saya lebih suka mengutip lagu-lagu barat daripada Alquran—lalu dimana letak kebanggaan akan Alquran.

Saya bisa menghafal lagu, bertambah satu setiap hari, namun setiap hari itu pula, hafalan Alquran saya berkurang—lalu dimana letak izzah sebagai muslim.

Saya menulis dengan menghadirkan pendapat-pendapat ilmuan barat—yang jarang mandi—seperti Immanuel Kant atau—yang tidak pernah cukur kumis—seperti Nietzche, daripada mengutip tulisan dari penulis muslim yang begitu hebat dalam menjaga akhlak dan perilakunya, seperti Bukhari yang selalu berwudhu dan berdoa sebelum menuliskan setiap bait hadist yang ia dapatkan. Lalu dimanakan letak ketinggian diri sebagai seorang muslim?

Ah, kemana saja aku, kamu dan kita selama ini?

Hari ini, buku Memoar Hasan al-Banna, memberikan aku sebuah kisah berupa catatan harian seorang yang lahir dan begitu bangga dengan keislamannya—sedari kecil.

Al-Banna kecil [9 tahun] telah membuat laskar kecil bersama teman-temannya. Laskar yang mengirimkan nasehat berupa lembaran peringatan kepada seseorang karena telah berbuat maksiat—tanpa diketahui. Sampai guru sekaligus ulama yang mengajarinya juga mendapatkannya.
Al-Banna remaja [12 tahun] telah berjalan-jalan di kotanya petang hari menjelang fajar setelah melakukan sholat tahajjud, dan berazam dalam hati, bermimpi bisa membangunkan seluruh kota untuk sholat subuh berjamaah.

Al-Banna remaja beranjak dewasa [22 tahun] telah memimpin Ikhwanul Muslimun yang kantor cabangnya tersebar di lima belas kota di Mesir, membawahi puluhan ulama-ulama besar. Seringkali ia mengecewakan jamaah yang telah menunggu kedatanggannya. Mereka mengira akan menemui seorang syaikh besar, berjubah tebal, beruban dan tua, tapi yang mereka dapati hanyalah seorang pemuda yang belum genap 25 tahun.

Tak bisa saya tahan untuk tidak menuliskan percakapan Albanna dengan seorang wartawan. Suatu ketika seorang wartawan bertanya kepada Hasan Al banna, tentang diri beliau, sang wartawan meminta agar beliau menerangakn sendiri tentang dirinya kepada masyarakat, Imam syahid pun menjawab : “Akulah petualang yang mencari kebenaran, Akulah manusia yang mencari makna dan hakekat kemanusiaannya ditengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air dibawah naungan Islam yang hanif. Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasisa wujudnya, maka Ia pun berseru, ‘Sesungguhnya Shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, tuhan semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Inilah Aku. Dan kamu, Kamu sendiri siapa?


Inilah Aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?...

Saudaraku, kau tidak perlu menjawab pertanyaan itu sekarang. Aku memulai tulisan ini dengan sebuah harapan. Aku tutup juga tulisan ini dengan sebuah harapan, harapan agar kau terbangun esok hari dengan usahamu untuk—mencari, meminjam atau membeli—kemudian membacanya.


Blog EntryAug 28, '10 8:38 AM
for everyone

     Aku membuka kelopak mata di pagi hari dan menoleh, sungguh tidak ada yang kebetulan. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana Tuhan. Mencoba mereka-reka. Berapa banyak orang di bumi? Ada berapa banyak orang di Indonesia? Dan, berapa persen probabilitas aku bertemu seseorang dalam hidupku? Kecil sekali, bukan? Tapi mengapa di antara probabilitas yang kecil itu Aku malah bertemu dengan kalian? Aku yakin ini tidak terjadi secara kebetulan.

     Aku merangkak bangun, meraih berdiriku. Kembali mengernyitkan dahi, bahwa pena telah terangkat dan tinta garis tangan telah kering. Aku melihat bahwa kalian berbaris, datang satu persatu dalam kehidupanku memang disengaja. Tuhan sengaja mempertemukan kita bersama sebuah rencana. Tuhan ingin memberikan pelajaran kepadaku, dengan perantara kalian.

     Air mengaliri pori-pori wajahku. Merembes setetes demi setetes. Menyeka kulit yang tertidur untuk segera bangun, membuka pelepah hari yang baru. Seperti setiap kaum yang pasti datang kepadanya kebenaran lewat para rasul, kalian adalah orang-orang khusus utusan Tuhan untukku.

     Aku berjalan dan sesekali berlari berputar, kadang jatuh dan juga berhenti. Aku bertemu dengan wajah yang benar-benar ku kenal dan juga wajah yang benar-benar tidak aku kenal. Aku tertawa bersama ratusan deret gigi dan juga menangis sendiri di pojok kamar gelapku. Di antara dua emosi itu aku bisa menyunggingkan senyum dan mengulang kata-kata Joan McIntosh, “Accept the pain, cherish the joys, resolve the regrets; than can come the best of benedictions – ‘if I had my life to live over, I’d do it all the same.”

     Aku lelah dan terduduk. Maaf dan terimakasih adalah dua muka koin pamungkasku untuk kalian. Senyum tulus, ujar kata, uluran tangan, dekap mesra, jinjingan nama dan hangatnya saudara. Bisa dariku tapi tentu saja lebih banyak berasal darimu. Begitu juga kata pahit, muka masam, langkah berpaling, juga bangkai dan kebrengsekan. Semuanya bercampur dalam pertemuan yang tak kebetulan itu. Bisa darimu tapi tentu saja lebih banyak berasal dariku.

     Tiba saatnya aku menutup mata dan mematikan lampu. Dalam tidurku aku bermimpi, kalian datang, berbaris satu persatu, dalam kedekatan yang hangat, aku menyadari bahwa kalian adalah orang-orang khusus yang diutus oleh Tuhan, untuk meningkatkan kualitas spiritualku. Maaf dan terimakasih.
     ________________________________
     Syabli pamit.... pindah domisili ke Solo.



Blog EntryAug 18, '10 11:19 AM
for everyone

Ada yang pernah bilang
jika kita pergi terlalu jauh dari rumah
kita kehilangan akar kita
Membunuh terlalu banyak orang
dan kita lupa siapa diri kita

Jika kita tewas dalam pertempuran
kehidupan kita akan meresap ke tanah
Seperti hujan, akan hilang tanpa jejak

Jika saat itu kau sedang jatuh cinta pada seseorang...
harapan akan mekar lagi
dari dalam tanah
Dan merangkul kehidupan dengan penuh gairah


Blog EntryAug 17, '10 6:56 PM
for everyone
     “Ya Allah, betapa hebat Ibnul Khattab ... sosok macam apakah dia ia...?!!” kata-kata Abdullah bin Mas’ud ini cukup mewakili novel memoar Khulafaur Rasyidin yang ditulis oleh Khalid Muhammad Khalid, yang akan menjadi guru kita kali ini, novel berjudul “Di hadapan Umar”.

     Betapa hebat ‘Umar, yang dengan masuknya ia kedalam Islam, umat muslim yang tertindas menjadi mulia. Keislamannya kemenangan. Hijrahnya pertolongan dan pemerintahannya merupakan rahmat. Betapa hebat Ibnul Khattab, yang kekritisannya senantiasa berbuah menjadi firman Allah, kedatangannya menyingkirkan syaitan, tingkah lakunya menjadi stimulus sabda-sabda agung Rasulullah. Betapa hebatnya al faruq, yang luas wilayah kekuasaannya mencapai Kisra, sementara di bajunya menyempil dua puluh satu tambalan. Ia yang tentaranya beribu-ribu batalion, sedang ia masih sempat membantu sendiri persalinan keluarga miskin. Ia yang bertumpuk-tumpuk harta baitul mal di samping rumahnya, masih terus mengusung karung kepada warga miskin pada malam harinya.

     Di hadapan Umar, kita berkaca tentang kesederhanaan dalam kemegahan. Di hadapan Umar, kita mengerti akan arti dunia di tangan dan akhirat di hati. Di hadapan umar kita merindukan pemimpin dalam arti sebenar-benarnya. Khalid Muhammad Khalid sedang membisikkan di telinga kita tentang ada satu masa, yang benar-benar nyata, bahwa dimensi kepemimpinan dalam Islam itu nyata dan ada. Bukan di negeri dongeng, bukan juga negeri Alice in Wonderland. Masa itu adalah masa Umar.

     Saat-saat keadilan; Khalifah yang tunduk atas kebenaran ketika ia salah. Saat-saat kesejahteraan; ketika pemimin tak memakan makanan sebelum semua rakyatnya memakannya. Saat-saat kemakmuran; gaji-gaji pegawai pemerintah selalu diutamakan sedangkan presiden terlambat ke masjid karena menunggu pakaian yang hanya satu-satunya kering.

     Zaman itu ada...

     Namun kita membayangkannya seakan itu ada di negeri Sinderella. Bukan di negeri ini. Alasannya? Mungkin kita bisa sepakat dengan Sa’id Hawwa dalam bukunya Al Islam ketika ia mengakui bahwa ia telah salah mendefinisikan kebudayaan Islam. “waktu itu saya belum dapat melepaskan diri sepenuhnya dari tekanan tumpukan endapan-endapan kebudayaan, dalam struktur mental dan kejiwaan saya. Yaitu endapan-endapan yang datang dari sumber-sumber asing. Asing dari perasaan keislaman saya. Konsepsi kebudayaan menurut pemikiran Eropa telah menipu pandangan saya, mengaburkan penglihatan saya, sehingga saya tidak dapat lagi melihat dengan jelas dalam bentuk yang orisinal.”

     Keasingan perasaan dan jiwa keislaman kita telah menjadi hijab yang begitu tebal untuk menjelma dimensi kepemimpinan islam dalam kehidupan kita. Dimensi kepemimpinan Umar dan Khulafaur Rasyidin lainnya dengan masyarakat yang berkebudayaan Islam. Yah, bila penguasa tertinggi dalam suatu masyarakat hanya kepunyaan Allah saja, terlambang dalam berdaulatnya syariat Ilahi, maka sebenarnya, itu adalah satu-satunya bentuk di mana manusia menjadi bebas, dengan sempurna dan dengan sesungguhnya dari penghambaan manusia. Disitulah kesejahteraan, disitulah keadilan.

     Kenyataannya sekarang kita tidak dalam dimensi itu, seperit kata Sa’id Hawwa masih dalam bukunya Al Islam, “Dalam suatu masyarakat di mana sebagian manusia merupakan tuhan-tuhan yang membuat peraturan, dan sebagian manusia yang lain menjadi budak yang mematuhi peraturan, maka sesungguhnya kemerdekaan dan martabat manusia, yang terlambang dalam setiap individunya, tidak ada.”  Benar-benar TIDAK ADA!.

     Dalam hari-hari kemerdekaan bangsa kita kali ini, kita belajar, bahwa kita tidak sepenuhnya harus menyalahkan pemimpin kita dalam ketidakmampuan kita mengejawantahkan kehidupan sejahtera dan berkeadilan itu dalam masyarakat muslim terbesar di dunia ini. Kita sedang berusaha, sesaat demi sesaat, sesaat demi sesaat.

     Introspeksi dan perbaikan harus terus selalu memenuhi ruang tingkah laku kita, jangan-jangan kita seperti apa yang digambarkan dalam percakapan Ali bin Abi Thalib dengan seorang rakyatnya, yang saya nukilkan dari buku Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah, “Dulu di zaman khalifah Abu Bakar dan Umar,” kata seorang lelaki kepada Ali. “keadaan begitu tenteram, damai, dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhalifahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaannya begini kacau dan rusak?”

     “Sebab,” kata Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti Aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”


Blog EntryAug 16, '10 11:38 AM
for everyone
     Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. Dalam dekapan ukhuwah. –Salim A. Fillah—

     Itulah sebaris paragraf yang merangkum guru kita kali ini. Dalam dekapan ukhuwah, buku ketujuh Salim A. Fillah. Kalimat indah, padat penuh makna dan menentramkan. Siapkanlah sila terbaikmu untuk mendengarkan. Tapi kali ini kita tidak akan mengulang apa yang telah kita baca dari buku itu, karena guru kita akan mengajarkan sisi lain, tentang cerita. Cerita Salim

     Kali ini kita belajar dari Salim tentang cerita. Atau kata lainnya kisah. Saya membayangkan bahwa buku setebal itu penuh dengan potongan-potongan cerita yang meliuk-liuk seperti kawat yang melingkari besi lurus alur pesan yang Salim ingin sampaikan. Itu menandakan bahwa Salim telah membaca banyak cerita, telah mendengarkan bertumpuk kisah, telah mengambil makna dari segudang scene kehidupan.

     Imajinasi Salim membahana bersama cerita-cerita kehidupan yang ia dekap. Ia mewakilkan apa yang menjadi gagasan-gagasannya dalam cerita. Dengan itu ia memberi warna dalam tiap untaian katanya. Menunjukkan bukti tanpa menghakimi, mengedepankan rasa daripada logika, menyentuh hati tanpa menggamit emosi. Kali ini kita belajar dari Salim tentang cerita.

     Kita tahu bahwa cerita itu membentuk dirinya sendiri, menyusun maknanya sendiri dengan ketekunan. Ketekunan akan membaca. Satu kali, dalam sebuah pameran buku, Salim berkunjung bersama putri kecilnya Hilma ‘Aqila Mumtaza. Mereka datang berdua. Si putri kecil asyik melihat satu-demi satu puluhan buku yang berbaris rapi di atas meja. Dan ia mulai membaca, aku tidak tahu persis berapa umurnya waktu itu, mungkin tiga atau lima tahun. Tapi ia mulai mengeja. Ia menemukan huruf A dan ia bergembira menghadap ayahnya. Sang ayah dengan ceria menyambut kegembiraan putrinya itu. Putri kecil kembali melihat buku yang lain, ia menemukan huruf C dan ia kembali bergembira.

     Sampai tiba tangan putri kecil itu pada sebuah buku cerita. Cerita anak-anak. Dan sang ayah mengatakan, “Baca cerita yuk!”. Putri kecil tertawa tersenyum girang.

     Itu mengingatkan saya pada sosok Stephen King. “Hampir sepanjang waktu sembilan bulan” katanya dalam buku On Writing “yang semestinya kuhabiskan di kelas satu, justru kuhabiskan di tempat tidur.” Ia terserang campak dan berbagai macam penyakit aneh lainnya. “Aku mengisi waktu dengan membaca kira-kira enam ton buku komik, lalu beralih pada cerita tentang Tom Swift dan Dave Dawson, lalu beralih ke cerita-cerita binatang Jack London yang mengerikan. Kemudian, aku menulis cerita-ceritaku sendiri.”

     Cerita juga mengingatkanku pada Fauzil Adhim. “Kelas empat saya sakit jantung” ceritanya di buku Dunia Kata. “Lari-lari saya tidak bisa karena baru lari-lari sebentar saja wajah sudah pucat bukan main.” Fauzil lalu lebih sering bermain di sungat dekat rumahnya bersama teman-temannya. Di situ dia bercerita. Macam-macam. Ketika teman-temannya yang lain bercerita tentang film yang dilihatnya di TV, ia bercerita tentang Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, hingga nabi Ibrahim. Tak terkecuali tokoh-tokoh fiktif.

     Kali ini Salim, Hilma, King, dan Fauzil mengajarkan kita tentang cerita. Saya teringat bahwa ayah saya sering bercerita sebelum anak-anaknya tidur. Walaupun tidak terlalu sering, tapi sedikit saya masih ingat cerita tentang kodok dan kera yang berebut pohon pisang, kisah nabi-nabi. Sedikit tidak itu telah menumbuhkan sesuatu dalam diri saya.

     Tentu saja cerita salimlah (baca terjemah bahasa arab: baik, selamat) yang akan menumbuhkan bibit-bibit terbaik. Mari kita contoh Salim! Dengan mengambil cerita cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk cerita hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia cerita persaudaraan kita; cerita beningnya prasangka kita, cerita pekanya nurani kita, cerita hangatnya semangat kita, cerita nikmatnya berbagi kita, cerita kokohnya janji kita. Dalam dekapan ukhuwah.


Blog EntryAug 15, '10 1:20 PM
for everyone

     …ketika Tuhan tak bisa ditolak dan agama bertambah penting dalam hidup orang banyak, memberi kekuatan, menerangi jalan, tapi juga membingungkan dan menakutkan. –Goenawan Mohamad—

     Membingungkan dan menakutkan. Itulah pendapat pertamaku tentang buku ini. Bukan dalam artian bahasa dan juga penjelasan. Dua hal yang kusebutkan belakangan akan kujelaskan nanti. Tapi yang kumaksud dengan membingungkan dan menakutkan adalah ide besar yang menjadi ujung tombak—kalau boleh saya menyimpulkan—apa yang GM tuliskan.

     Sederhana sekali apa yang ingin GM getarkan melalui tulisan-tulisannya. Dan itu membingungkan sekaligus menakutkan. “Mempertanyakan”. Itulah satu kata yang membingungkan sekaligus menakutkan. GM menulis untuk mempertanyakan. Membingungkan karena lebih sering berakhir dengan tanda tanya. Serta menakutkan karena itulah sifat pemberontakan. Yah, kadang ini terlalu sulit untuk diukur. Mempertanyakan yang masuk sifat mencari kebenaran, kritis ataukan pemberontakan. GM mempertanyakan keadaan-keadaan bahkan ia seringkali ‘mempertanyakan’ Tuhan!

     Dari judulnya saja, “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai” sudah menunjukkan bahwa GM sedang mempertanyakan. Lihat saja paragraf terakhir dalam tatal ke-81! “Ia tahu hanya manusialah yang bisa bermimpi dan menyiapkan perubahan, justru di dunia yang tak terpenuhi. ‘manusia menentukan, Tuhan mengecewakan,” begitulah ia berkata.” Juga dalam tatal ke-76 ketika ia ‘mempertanyakan’ Jakarta dan juga Ciliwung, ia menulis “Saya kira semuanya mungkin. Tuhan mencipta. Ia tak merancang.”

     Terlepas dari semua apa yang telah saya tulis di atas, saya mengagumi GM. Bukan karena ide membingungkan dan menakutkannya, tapi karena ia memberi kekuatan pada setiap kata yang ditulisnya. Saya harus mengakui itu. Saya merasa seperti seonggak uap embun di tengah samudra ilmu yang begitu luas. Kali ini saya belajar, bahkan dari seorang GM, bahwa setiap kata yang kita tulisakan harus punya kekuatan. kata yang memberi kekuatan, menerangi jalan, menggerakkan, dan sesekali mematikan. Dan kata yang seperti itu hanya bisa datang karena membaca. Ya, membaca dan membaca.

     Dari satu tatal ke tatal berikutnya yang mungkin hanya satu atau dua paragraf, GM telah membuktikan bahwa ia tidak main-main dalam menuliskan kata. Satu paragraf bisa berasal dari dua, tiga atau bahkan empat buku yang telah ia lumat. GM melalui buku “Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai”nya telah mengajakku berkelana berterbangan kesana-kemari. Mulai dari abad ke-16 kerajaan Demak sampai ke abad ke-21 tentang kata-kata Fukuyama. Dari cerita Orpheus dan Eurydice dalam mitologi Yunani sampai lelucon Groucho Marx. Dari Taj Mahal sampai Orvieto, katedral berumur 700 tahun. Dari Muhammad sampai Isa. Dari elegi Rilke sampai tafsir Fi Zilalil Qurannya Sayyid Qutb. Dari Masjid sampai gereja. Dari petani pendek sampai Tuhan!

     Ahh… aku merasa belum membaca apa-apa. GM, aku memang tidak sependapat dengan ide dan juga gagasan yang telah kau bisikkan padaku hari ini. Tapi hari ini aku belajar. Belajar untuk terus belajar. Belajar untuk terus membaca dan membaca. Memberi kekuatan pada setiap kata, sehingga dia akan menerangi jalan, dan menggerakkan, tentu saja dengan jalan yang telah aku pilih sendiri. Aku akan terus belajar, ketika Tuhan tak bisa aku tolak, dan agama bertambah penting dalam hidupku, memberi kekuatan kepadaku, menerangi jalanku, serta membebaskan kebingungan juga ketakutanku.

Blog EntryAug 14, '10 3:29 AM
for everyone
Apa yang kau lihat di kemegahan ramadhan kali ini? Pahala berlipat, dosa menyempit. Ataukah kebaikan bertebaran sedangkan keburukan berguguran. Ketika magrib bertalu di tanggal satu, apa yang kau pikirkan menyambut tamu mulia itu? Apa kau tergagap atau kau malah terkesima dengan waktu, bahkan tak menyadari bahwa sudah tiba masa bagimu –untuk menyeru.

Jadi bilakah kau berada, di kemegahan ramadhan kali ini. Tepat di belakang imam yang menggemakan takbir ataukah di pelataran masjid tertutup tabir gelap shaf-shaf yang berbaris –melihat dari pinggir.

Itukah tempatmu di kemegahan ramadhan kali ini. Di pinggir arus rahmah, barokah dan magfirah yang mengalir deras. Kau tergugu menjadi batu di pinggirnya. Cangkangmu terlaku kuat tertanam dalam. Ingin hatimu ikut ke tengah, tapi reaksi tubuhmu hanya diam.

Ahh… kalau kau tidak mendapatkan ampunan di kemegahan ramadhan kali ini, kapan lagi?

Masih sajakah kau seperti Orpheus. Memutuskan melintasi kematian untuk sampi di Hades. Demi Eurydice. Kau lewati kegelapan sungai Styx, kau taklukkan Charon dan juga Apollo dengan anggunnya kidung asmaramu. Kau pun punya kesempatan kedua. Jiwa Eurydice bisa ikut pulang besamamu, dengan satu syarat. Hanya satu syarat. Selama perjalanan kau tidak boleh menoleh kebelakang.

Kalaulah Orpheus gagal, begitulah juga keadaanmu di kemegahan ramadhan kali ini. Merana di pinggir ramadhan. Karena kesalahan kecil, kau kehilangan kesempatan terbesar dan –bahkan mungkin –terakhir dalam hidupmu.

Ahh… kalau tidak ramadhan kali ini, kapan lagi ampunan itu kau dapatkan?

Sementara para ‘sahabat’ mempersiapkan kemegahan ini enam bulan sebelum kemegahan, kau sudah tidak sempat mengangkat Alquran itu dari susunan terbawah rak bukumu yang berdebu. Sementara tabir magrib tanggal satu terbuka dengan mengatakan “ahlan wa sahlan ya syahrut tarbiyah”, kau sudah tidak sempat mematikan kotak hitam yang berbicara sepanjang hari itu. Sementara kumandang adzan menandakan waktu untuk berburu syurga, kau masih sibuk dengan struk restoran dan juga bioskopmu.

Jadi bilakah kau berada di kemegahan ramadhan kali ini? Apakah di tengah hiruk pikuk kebaikan yang mengalir dan dosa yang menyingkir, ataukah kau hanya memandanginya dari pinggir –di ramadhan kali ini.


Blog EntryAug 5, '10 7:00 PM
for everyone

Terjadilah,

Karena pena telah terangkat  dan tinta telah kering.

Dalam kebutaan aku melangkah—maju.

 

Hanya waktu,

Tempat pembuktian laku dan harap.

Dalam ketidaktahuan aku memutuskan.

Karena Kau dan aku sama-sama tidak tahu.



Blog EntryJul 26, '10 4:44 AM
for everyone
antara dua pilihan masa depan, antara dua wawancara, antara dua kota yang berbeda, antara realitas dan impian, antara keluarga dan diri sendiri, antara berakit-rakit ke hulu atau bagai punuk merindukan bulan : inilah dunia 'antara'ku, pendidikan atau pekerjaan?

Seminggu yang lalu seorang ustadz mengatakan kepadaku “Ya akhi, antum tidak akan tahu di belahan dunia mana antum akan menghabiskan sisa hidup antum. Saya, sekolah dari SD sampai Kuliah di Jakarta, besar di Jakarta, saya tidak pernah punya mimpi ataupun pernah terlintas di benak bahwa saya akan berada di sini. Di tempat yang tidak Nampak dipeta. Tapi begitulah Allah mengatur segala kehidupan kita. Semuanya pasti baik, yang kau perlukan hanyalah ‘keberanian untuk menentukan sikap’.”

Beberapa hari yang lalu, setelah mencuci baju yang seabrek, sebuah sms datang ke hp saya. Bunyinya: “Assalamualaikum. Disampaikan : Informasi tes seleksi S2 PKU DDII – BAZNAS lengkapnya silahkan akses di website www.pku-dewandakwah.com...
.. Suidat (sekretaris Dr. Adian Husaini) Seleksi : Selasa 27 Juli jam 08.30.”

Beberapa hari sebelumnya, saya juga sudah menerima undangan dari Kemenegpora untuk seleksi tahap II di Jakarta.

Pagi ini, sebuah nomor tak dikenal muncul di hp.

“Halo Assalamualaikum.” Sapaku.

“Ini dengan Syabli?.” Tanyanya. Suara seorang permpuan.

“Ya mbak. Siapa ya?”

“Saya Fika dari Jurnal Nasional, kami mengundang saudara Syabli untuk wawancara besok pagi. Terkait lamaran yang Syabli kirimkan.”

“Oya.” Terkejut. “Dimana dan jam berapa mbak?”

“Besok langsung aja datang ke kantor, alamatnya Jl. Pemuda No. 34 Rawamangun Jakarta Timur.”
“Harus besok mbak?” tanyaku lagi.

“Ya. Bagaimana?”

Tidak ada yang tahu, di belahan bumi sebelah mana masa depan itu akan berada. Tapi memang dibutuhkan keberanian untuk bersikap. Saya bersyukur bahwa Allah telah memberikan begitu banyak penawaran, hidup seperti apa yang akan saya jalani berikutnya. Yah, no matter where, yang terpenting adalah kita harus punya tiga botol sebagai bekal kata Ary Ginanjar. Mungkin, saya tidak akan mendapatkan ketiga tawaran di atas, mungkin saya juga tidak akan berada di dua kota di atas. Sepertinya itu tidak akan menjadi sebuah masalah selama kita bersyukur dan Allah selalu ada bersama kita, karena, apapun jadinya kita, dimanapun kita, dengan siapapun kita, selama ‘Dia selalu dekat’, semuanya akan baik-baik saja.

Blog EntryJul 11, '10 9:48 AM
for everyone
Bismillahirrohmanirrohim, aku tuliskan sebuah surat ini untukmu, guruku tercinta. Ustaz Chairul Anam.

Sore ini menyentakku. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa berita yang begitu besar datang melalui sms. Di handphoneku. Ternyata, berita itu tentangmu. Berita kematianmu. Oh, begitu tiba-tiba. “Innalillahi wa inna ilaihi roojiun, telah wafat guru kita, Ustaz Choirul Anam di Puskesmas Tanjung tadi siang karena kecelakaan.” Aku telah kehilangan seorang ayah.

Ustaz, Andrea Hirata boleh punya seorang Ibu Muslimah, tapi Syabli telah punya seseorang, yaitu Ustaz. Diantara puluhan guru yang telah membimbing Syabli, Ustaz adalah satu-satunya guru yang telah memberikan dampak paling besar buat Syabli. Ustaz telah membuat perubahan paling mendasar dalam diri Syabli. Syabli benar-benar telah kehilangan seorang Ayah.

Maafkan Syabli ustaz. Syabli adalah tipe pencinta yang sulit untuk mengungkapkan perasaan. Syabli mencintai Ustaz, menyayangi ustaz, menghormati ustaz. Namun, diantara murid ustaz yang lain, Syablilah murid yang tidak pernah memberi kabar. Tidak pernah silaturrahim, tidak pernah berkirim kabar, sms ataupun telepon. Dan sekarang, Syabli tidak bisa lagi mengatakan itu semua. Semuanya terlambat. Saya punya mimpi ustaz, mimpi sederhana. Mimpi yang sekarang tidak akan pernah terwujud. Syabli berazam dalam hati, bahwa suatu hari nanti, Syabli akan datang ke rumah ustaz, mengucapkan salam dan mengetuk pintu. Kemudian ustaz membuka pintu dengan senyum dengan wajah sedikit terkejut, ternyata ada Syabli. Dan dengan segala kebanggaan, Syabli akan mengatakan bahwa Syabli telah berhasil. Syabli ingin membuat ustaz bangga.

Ah, azam itu telah menjauhkan Syabli dari ustaz. Sejak lulus dari MAK, Syabli tidak pernah lagi mengetuk rumah ustad. Tidak pernah. Syabli belum berani karena Syabli belum berhasil. Azam itu juga yang membuat Syabli tidak pernah menghubungi Ustaz. Maafkan Syabli ustaz. Kadang, Syabli juga berfikir bahwa Syabli memang benar-benar aneh. Seharusnya Syabli tidak melakukan itu kan? Sekarang, Syabli telah kehilangan seorang ayah.

Ustaz, walaupun sekarang ustaz tidak bisa mendengar suaraku lagi, Syabli ingin mengatakan bahwa ustaz telah memberikan begitu banyak pada Syabli. Ustaz telah mengajarkan banyak hal. Selama tiga tahun kita bersama merupakan masa yang luar biasa untuk Syabli dan juga teman-teman. Sebuah kebersamaan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Ustaz menginspirasi kami semua.

Ustaz masih ingat ketika Ustaz memergoki Syabli sedang main kartu. Siang itu pelajaran kosong dan Syabli bersama beberapa teman membolos dan pulang ke asrama. Di asrama, tidak ada yang bisa dikerjakan, hanya tidur-tiduran. Dan kamipun mengambil kartu remi dan memainkannya. Permainan berlangsung seru dengan gantungan baterai sebagai hukuman, sampai sampai kami melepaskan baju karena kegerahan, entah karena panas atau karena memang serunya permainan. Dan tiba-tiba sosok ustaz muncul di pintu. Khas dengan senyum dan pertanyaan yang tidak perlu meminta jawaban, “Lagi ngapain?”. Kau pun menyuruh kami mencabut rumput di sekitar asrama sampai zuhur. Sebenarnya, waktu itu Syabli menginginkan hukuman yang lebih berat, sehingga bisa mengobati rasa bersalah, tapi ustaz tidak memberikannya. Dan ustaz pasti ingat apa yang Syabli lakukan setelah itu, hehe, keanehan Syabli muncul lagi. Setelah sholat isya, Syabli menyerahkan sebuah buku tulis yang berisi ratusan tulisan tangan dengan font ukuran besar bertuliskan, Syabli tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.

Huh, itu hanya sepotong kisah diantara begitu banyak yang kita lalui selama tiga tahun. Terkadang lucu, terkadang membuat kangen. Ada satu hal lagi yang kalau dulu membuat Syabli senang, sekarang terasa menyedihkan yakni masalah pukulan. Dulu, selama tiga tahun, Syabli selalu lolos dari pukulan ustaz. Kelas satu dan dua setiap kesalahan selalu diserahkan kepada kakak kelas tiga, mereka yang memberikan pukulan, baru kelas tiga, semua kesalahan yang memberikan hukuman adalah ustaz. Dan selama satu tahun itu, syabli selalu lolos dari pukulan ustaz. Ketika Syabli melanggar bagian Ibadah atau keamanan, saat tiba waktu hukuman, ustaz tidak berada di tempat, entah sedang keluar, atau sedang ada tamu. Sekarang kalau bisa Syabli akan meminta ustaz untuk menghukum Syabli, terus terang Syabli ingin merasakan, sekali saja, pukulan ustaz. Sekarang, semuanya telah terlambat. Ustaz telah pulang. Syabli telah kehilangan seorang ayah.

Ustaz telah banyak merubah Syabli. Ustaz mengajarkan kepada Syabli untuk bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian, ustaz mengajarkan kepada Syabli tentang pengorbanan, tentang cita-cita mulia, tentang menjadi seorang guru, tentang segala hal. Syabli akan selalu merindukan ceramah-ceramah ustaz. Ceramah yang selalu memikat, tidak pernah basi, dan juga penuh dengan perumpamaan. Ustaz tidak hanya menjadi seorang guru buat Syabli, tapi ustaz adalah inspirasi hidup. Ustaz tidak hanya mengajarkan aku bahasa arab tapi ustaz mengajarkan aku menggunakan bahasa arab untuk mengenal agama lebih dalam. Ustaz tidak hanya mengajarkan aku bagaimana cara menjadi seorang dai, tapi ustaz mengajarkan aku untuk menjadi penceramah bagi diri sendiri. Ustadz tidak hanya mengajarkan aku bagaimana cara melihat masalah, tapi juga bagaimana cara bersikap dan menyelesaikan masalah.

Syabli akan merindukan saat-saat ustaz mengajak syabli mengajar bahasa arab untuk bages-bages (orang-orang di kota mataram yang keturunan arab). Dengan motor astrea grand butut, ustaz akan membonceng syabli menuju rumah mereka. Ibu-ibu mancung bersemangat belajar bahasa nenek moyang mereka dan diajar oleh orang keturunan sasak. Hah, pengalaman menarik. Dan yang lebih menarik lagi tentu saja makanannya yang khas. Makanan mataram ala arab.

Besok pagi ustaz akan menempati rumah baru dan Syabli tidak akan ada di sana. Rumah baru yang akan memisahkan dua dunia kita. Ustaz akan berada di dunia baru dan Syabli masih di sini. Ustaz sudah membuka gerbang itu lebih dulu. Syabli tidak bisa melakukan apa-apa ustaz, bahkan untuk hadir di peristirahatan terakhirmu pun, Syabli tidak bisa. Maafkan Syabli yang terlambat mengunjungi ustaz. Syabli bermimpi bahwa lebaran besok Syabli akan bisa menjabat tangan ustaz, namun, tentu saja Allah punya rencana lain. Melihat wajah ustaz untuk terakhir kali juga tidak bisa, waktu dan ruang telah menghalanginya. Hanya dengan tulisan sederhana ini, Syabli ingin berbicara pada diri Syabli sendiri. Hanya doa dan amal jariyah ustaz berupa ilmu saja yang bisa syabli teruskan. Selebihnya, Syabli akan menunggu pertemuan berikutnya dengan ustaz. Ustaz pasti masih ingat ceramah subuh Syabli yang ustaz beri apresiasi. Ceramah tentang kematian. Komentar ustaz tidak pernah saya lupakan. “Kalau ceramah, ambillah hanya satu tema dan jabarkan dengan memperbanyak perumpamaan. Jangan terlalu banyak tema tapi tidak fokus. Seperti tadi ceramahnya Syabli menggambarkan kematian dengan perumpamaan dua anak kembar.”

Ya, dua anak kembar. Dua anak kembar yang berada di alam rahim. Mereka hidup bersama selama berbulan-bulan. Makan dari satu sumber. Bermain bersama, selalu bersama-sama. Hingga tiba satu waktu, satu diantara keduanya lahir. Yang dikatakan anak masih berada di dalam rahim ketika saudaranya lahir adalah “saudaraku telah meninggal”.

Tidak ada beda antara kematian dengan kelahiran. Pada hakikatnya kematian dan kelahiran itu sama saja. Hari ini saya mengatakan bahwa ustaz telah meninggal, tapi hari ini juga ustaz telah lahir di alam barzah. Hari ini ustaz mati di dunia manusia, tapi ustaz telah lahir di kehidupan ketiga.

Syabli hanya bisa berdoa, semoga Allah mengampuni dan merahmati ustaz. Maafkan semua kesalahan Syabli, terimakasih atas segalanya.

Tilmizuka,


Syabli

Blog EntryJul 8, '10 9:59 PM
for everyone


Berada dalam jama’ah tidak melulu harus berkutat dengan amanah dan amanah serta beban. Sebenarnya dalam perjalanan keberjama’ahan saya, banyak hal unik dan menarik yang saya temukan. Ingin saya tuliskan di sini beberapa kalimat atau kata yang bisa membuat saya tersenyum…

Eits! Warning!... mungkin bagi anda yang membacanya, tidak akan merasa bahwa kata atau kalimat itu lucu. Saya juga pasti akan merasa begitu lima tahun lalu, tapi seiring dengan kebersaman di jama’ah, kalimat atau kata itu menjelma menjadi jemari yang menggelitik jika dipikirkan benar-benar.

Mungkin juga, kata atau kalimat ini bermakna sesuatu yang mendalam, bagi sebagian orang. Saya juga merasakan itu, walaupun kadang kalimat atau kata-kata itu lucu, sebenarnya, ia mengandung sesuatu kritik, mengandung peringatan, mengandung juga sindiran secara tidak langsung bagi orang yang membaca dan telah berinteraksi lama di jama’ah ini.

Dari pada penasaran, ini beberapa kalimat yang menurut saya lucu:

“Koar-koar mau keluar, masuk aja belum!”

Mau menjelaskan kalimat ini, tapi ada tembok besar pemahaman yang harus dirobohkan terlebih dulu. Jadi tidak usah saja. Bagi yang sudah paham silahkan tertawa ! haha dan kemudian bersedih karena kepahaman itu menuntut sebuah kerja nyata.

“Pintu masuk itu sangat sempit, sampai-sampai kita tidak bisa mengintip. Namun, begitu kita masuk, tidak ada pintu lagi, pintu masuk ataupun keluar, semuanya berubah menjadi lapangan.”

Kalau kalimat yang ini telah menimbulkan keributan di status saya pagi ini………….. ckkcckckckck!!!

“Yang paling sulit dalam jama’ah kita adalah harus berbicara dengan dua bahasa.”

Ini saya rasakan betul ketika kadang-kadang, tidak ada jawaban lagi yang bisa kita berikan (kembali lagi masalah tembok kepahaman), hingga akhirnya jawaban terakhir adalah diam, atau bahasa lain yang beegitu diplomatis mendekati kebohongan. Hehe… afwan ya!

“Hanya ada dalam jama’ah kita, di satu wajah dia bawahan, di wajah lain, dia pemimpinnya.”

Kalau yang ini baru tahu beberapa hari yang lalu….. hebat, si dia ini memang keren!!!
Dan masih banyak lagi…………. Silahkan tertawa kalau paham, kalau tidak paham, silahkan penasaran.

Blog EntryJun 27, '10 2:07 PM
for everyone

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Tulisan ini ingin kupersembahkan untuk diriku sendiri. Juga untuk semua aktivis dakwah kampus di Indonesia bahkan dunia. Para aktivis kampus yang gamang dengan keadaannya, para aktivis yang baru saja lulus kuliah, para aktivis yang sedang menyelesaikan skripsi, para aktivis yang sedang ngebet ingin menikah, para aktivis yang baru saja menikah, para aktivis yang sedang mencari penghidupan, para aktivis yang ingin melanjutkan sekolahnya, para aktivis yang ingin pulang kampung, para aktivis dalam masa transisi.

Saya mengutip sebuah surat yang paling sering dipakai oleh imam yang hafalan alqurannya minim. Terkenal dengan Alam nasyroh. Dulu, ayat ini sering sekali saya dengar dari ustadz saya di asrama siswa. Ketika dia selesai menampar siswa karena tidak ikut shalat berjamaah subuh, ketika kami selesai ulangan semesteran dan merasa bebas dari tanggung jawab dan tugas belajar, ketika dia menasehati kami sebagai bapak, ketika dia melihat kami sedih, ketika dia melihat kami berprestasi, bahkan ketika kami lulus. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Sekarang, benar terasa bahwa melaksanakan dua ayat itu saja sedemikian berat. Tidak hanya pada diri saya pribadi, tapi saya juga melihat bahwa banyak orang-orang yang mengaku aktivis dakwah itu mengikuti jejak saya, sulit melaksanakan ayat itu.
Itulah mengapa saya menemukan istilah baru yang saya buat-buat sendiri. Aktivis temporer. Sebuah kondisi dimana banyak aktivis yang berguguran, cuti, mandek, mundur sementara dari aktivitas dakwahnya. Mungkin terdengar lucu, tapi itu adalah kenyataan yang banyak kita hadapi. Cuti sementara dari dakwah atau mungkin ada sebutan lain yang lebih menggelitik. He.

Coba saja perhatikan (saya juga berkaca pada diri saya), ketika tuntutan skripsi datang, orang tua meminta kita untuk sesegera mungkin meluluskan diri, aktivitas dakwah kita berkurang dengan sendirinya. Alasannya, sederhana, fokus skripsi. Pun juga nanti kalau sudah lulus, bagi aktivis-aktivis kedokteran misalkan, koas menjadi alasan yang cukup bagus untuk cuti sementara dari dakwah. Bagi yang lain, mencari maisyah (penghasilan) membuat lupa perjuangan tiga atau empat tahun di kampus. Atau juga buat para aktivis yang baru menikah, entah secara otomatis atau tidak, aktivitas dakwah sudah pindah total ke dalam rumah, tidak keluar-luar lagi. Terkadang, jawabannya sih tidak secara ekstrim mengatakan bahwa saya tidak punya giroh lagi, tapi lebih kepada prioritas, alasannya adalah ‘mainan baru’nya itu lebih prioritas. Oleh karena itu, untuk sementara waktu, mengurangi aktivitas dulu, baru nanti kalau sudah lowong baru memulai lagi dakwahnya secara total.

Memang, aktivitas dakwah yang kita lakukan itu termasuk gorib (aneh, freak) kata seorang ustadz, dan kalau kita tidak meyakini bahwa itu endingnya adalah kebahagiaan, maka kita tidak akan kuat. Terkadang, seorang aktivis yang sudah empat semester skripsi tidak rampung-rampung, akhwat yang tidak menikah-menikah, mantan ketua LDK yang tidak jelas juntrung hidupnya, aktivis tidak punya penghasilan, itu semua menjadi tekanan sosial yang sedemikian berat yang menambah ‘aneh’ aktivitas dakwah kita itu. Seandainya kita tidak meyakini bahwa apa yang kita lakukan itu akhirnya adalah kebahagiaan maka, kita akan seperti judul di atas, aktivis temporer. Kalau lagi mood ya lanjut, kalau tidak ya istirahat dulu lah!

Kritik pribadi untuk diri saya, dan mungkin masih sulit saya hilangkan adalah, semangat amanah yang terbangun di diri saya selama ini adalah; semangat mengakhiri penderitaan dari beban itu. Itu sangat terlihat jelas dari becanda-becanda kita, terlihat jelas dari selentingan-selentingan kita. “Ah, kapan selesainya amanah ini?” “ Ah, bosan.” Padahal semangat ayat yang sudah sejak SD saya hafal itu, bukan untuk mengakhiri penderitaan melainkan untuk melanjutkan ke fase selanjutnya. Bukan semangat berlama-lama tapi sesegera mungkin menyelesaikan misi untuk bertarung di level berikutnya, di fase yang lebih tinggi.

dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Semua timbangannya adalah dakwah. Tidak ada istilah aktivis temporer. Melalui misi di tiap level dengan sempurna kemudian berlanjut menuju level yang lebih tinggi, tetap saja dalam kerangka dakwah. Entah itu level ujian semester, skripsi, melanjutkan studi, mencari kerja, menikah, punya anak dan seterusnya, semua harus tetap dalam kerangka dakwah. Karena kalau tidak bertujuan untuk dakwah, kemana lagi kita akan pergi?

Rasulullah sampai mati dia tidak berhenti untuk menyerukan dakwah, karena dia tahu bahwa itulah ending terbaik. Abu bakar melanjutkan itu sampai dia mati, Umar melanjutkan itu sampai dia wafat, Ustman dan semua sahabat tidak terkenal karena kepandaiannya, karena kekayaannya, karena kharismanya, karena keturunannya, karena kebijaksanaannya, tapi mereka menjadi sejarah karena dalam diri mereka ada dakwah yang menyertai kepandaian, kekayaan, kharisma, keturunan dan juga kebijaksanaan itu. Jadi, dakwahlah pekerjaan mereka. Tidak yang lain. Tidak juga mereka pernah berhenti sementara kemudian kembali lagi. Sekali masuk maka total dan tak menoleh kembali.

Setelah membacakan ayat itu, ustadz saya selalu mengiringinya dengan perkataan “Jangan pura-pura!. Cari ilmu pura-pura, makanya nyontek. Nyari ilmu pura-pura, makanya males. Beribadah pura-pura, makanya tidak berkualitas.”  Dan kalau boleh saya melanjutkan, aktivis pura-pura, makanya....................................... (sensor)

Mungkin sebagian besar diri saya juga termasuk ke dalam kalimat yang disensor di atas. Masa transisi banyak mengajarkan saya tentang sebuah perjalanan. Semoga kita semua tetap teguh memegang apa yang pada akhirnya menjadi satu-satunya kebahagiaan di akhir cerita kita. Semoga kita bersyukur atas amanah yang Allah berikan, semoga kita bisa menyelesaikannya dengan kemampuan terbaik, dan segera berpindah menuju medan baru yang lebih seru berikut dan berikutnya. Terus bertarung sampai akhirnya nanti, cerita kita diakhiri dengan sebuah senyuman syahadat. Amin.


Blog EntryJun 13, '10 5:29 AM
for everyone
Hari ini benar-benar menguras hati. Betapa memang dilematis dan saya buntu tidak bisa berpikir apa-apa lagi.

Aku berpikir bahwa ini adalah masalah yang remeh, kucoba untuk mengatakan kepada diriku sendiri bahwa ini bukanlah masalah besar. Tapi tetap saja, serasa ada yang mendesak, menggedor-gedor nafasku. Aku sulit bernafas. Kuyakinkan dalam diri, ini hanya sementara, ini hanya sementara, ini hanya sebuah proses dalam sebuah kehidupan, sebuah tangga yang harus dilewati dalam ribuan tangga lainnya ke depan, tapi tetap saja, berat....berat... dan masih terasa berat. Allah...................

Semalam, aku tidur jam satu malam, kemudian terbangun kembali pukul empat pagi. Betapa tidak nyenyaknya tidurku, tidak berkualitas sama sekali. Kucoba untuk memejamkan mata, tapi, tapi tetap saja, otak ini terus bekerja, ia tidak mau berhenti, tak sedetikpun membiarkan kelopak mataku yang sudah sedemikian lebam untuk mau mengatup. Ada saat-saat ingin lari, sejauh mungkin dan melupakannya. Lelah dengan semua ini, tapi mau kemana. Dan masalahnya juga tidak akan pernah selesai, begitu kan?

Allah............sebuncah kebencian itu muncul dan menjadi-jadi. Aku tahu syetan sedang terus-meniupnya. Lama kelamaan, ia yang tadinya bara semakin membesar dan membesar. Sekarang telah berubah menjadi kobaran api yang aku tahu akan sulit aku padamkan, tapi ya Allah............ aku masih saja membiarkannya. Aku tidak bergerak sama sekali, bukan tidak bisa, tapi aku tidak mau bergerak, aku lelah...........

Ah, aku mulai berandai-andai, aku mulai membanding-bandingkan. Kehidupanku dan kehidupan orang lain. Ternyata aktivitas ini juga tidak membantu, yang nampak dipelupuk mataku adalah kekuranganku dan kelebihan orang lain, kemudian akhirnya yang muncul adalah pertanyaan "mengapa aku?". Pertanyaan berbahaya dan biasanya mencari sesuatu untuk dipersalahkan. Oh, Allah aku tidak ingin mempersalahkanmu. Bantu aku, tolong..........

Sebuah catatan untuk seseorang yang aku sayangi............
Apapun yang sedang terjadi padamu, yakinlah bahwa Allah Maha segala-galanya.
Dan satu hal lagi, apapun yang menimpa dunia ini, Aku akan selalu menyayangimu.

Blog EntryJun 7, '10 2:49 AM
for everyone

Kau tahu, bisa jadi kebahagiaan itu terletak pada apa yang selalu berusaha kita jauhi. Entah mungkin karena ketidak sadaran kita sehingga kita seringkali tidak pernah menyadarinya. Entah mungkin karena ego kita yang terlalu besar sehingga dia tidak pernah benar-benar terlihat, tertutup dengan api kesombongan yang terus kita pelihara. Sudah terlalu sering sepertinya, mata kita tertimbun debu-debu kebutaan akan apa sebenarnya obat yang kita butuhkan. Kita lebih bisa membelalakkan mata, ketika ada satu lagi obat penenang sementara dengan bungkus dan juga kemasan baru.

He, kau tahu, mungkin kebahagiaan sejati itu ada di tempat yang selalu kita jauhi. Kita menemukan ketakjuban baru setiap kita menginjakkan kaki di tempat baru, apalagi tempat itu berhiaskan fakta sejarah yang memujanya, apalagi kalau tempat itu sebegitu terkenalnya sehingga kita ingin memberi tahu semua orang, kita pernah menyisakan jejak kita di sana. Entah kenapa kita bahagia dengan tempat-tempat itu, kita seakan terlecut kembali untuk lagi dan lagi menemukan tempat baru lainnya. Tapi sekali lagi, bisa jadi kebahagiaan sejati itu ada di tempat kumuh, tempat biasa yang selalu kita jauhi. Rumah. Kata yang mungkin tidak selalu istimewa bagi sebagian orang. Kata itu bisa jadi tidak melambangkan kebanggaan apapun untuk diceritakan kepada orang lain. Rumah. Kata itu mungkin tidak terlalu menjadi tempat menggairahkan ingatan, atau malah sebaliknya, menyesakkan memori. Tapi bisa jadi, tempat yang selalu kita jauhi itu, tempat tidak istimewa itu, adalah tempat dimana kita akan menemukan kebahagiaan sejati. Siapa tahu.

Mungkin juga, kebahagiaan itu ada pada kesadaran saat kita melakukan, bukan pada saat kita melakukan karena sebuah rutinitas. Betapa kita bahagia ketika kita pertama kali mengetahui dan sadar bahwa kita sudah bisa bersepeda, untuk pertama kali dalam hidup kita, kita bisa mengayuh dua buah pedal dengan kedua kaki kita tanpa ada seseorang yang sedang memegangi kita. Untuk pertama kali dalam hidup kita, kita sadar bahwa kita sedang duduk di sadel sepeda tanpa ada seseorang yang ada di belakang yang memandang dengan perasaan khawatir kalau-kalau kita terjatuh. Kita sadar dan yakin atas apa yang sedang kita lakukan. Tapi setelah sekian lama, setelah sekian tahun, rutinitas bersepeda itu tidak mengasyikkan lagi, bahkan kita ingin berpindah kepada sesuatu yang lebih hebat lagi, motor atau kapal terbang. Kita melupakan kenikmatan bersepeda itu.

Kau tahu, ini mungkin paling berat bagi sebagian orang, bahwa bisa jadi kebahagiaan itu ada bersama orang yang selalu kita lupakan, orang yang jarang kita ingat. Ini mungkin paradoks –bagi sebagian orang— ketika kebahagiaan sejati itu akan hadir ketika kita kembali melihat ke masa lalu dan mulai memikirkan orang-orang yang pernah mampir dalam kehidupan kita, dan kita akan melihat, ada diantara mereka, segelintir orang yang sering kita lupakan kebaikan-kebaikannya, sering kita balas pedih kasih dan sayangnya, bahkan mungkin kita tidak selalu merasa senang bersamanya. Mungkin mereka bukan orang terkenal, bukan juga orang terpandang. Tapi coba lihat lagi lebih dalam dalam memorimu, dialah yang akan selalu bersedia menderita untuk kebahagiaanmu. Coba ingat-ingat lagi, dialah yang menyelimutimu saat dingin sementara dirinya hanya berbalut baju tipis.  Dialah yang berteriak ketika mendapatimu terjatuh, dialah yang selalu tersenyum bahkan ketika kau memakinya, bukan apa-apa, hanya karena dia menyayangimu, tanpa pernah memikirkan balasan apapun darimu.

Kalau begitu, mungkin secepatnya kita harus memikirkan kembali, ya, kembali mengingat, apa sebenarnya yang apa menjadi kebahagiaan kita, dimana kebahagiaan kita itu bersumber dan kembali berterimakasih pada orang-orang yang telah berkasih sayang dengan kita. Dan setelah itu, sepatutnya kita bersyukur, bersyukur kepada Allah atas hidup yang begitu indah. Bersyukur dengan hati yang senantiasa ingat, bersyukur dengan lidah yang selalu basah, bersyukur dengan raga yang terus bergerak.


Blog EntryMay 31, '10 9:18 AM
for everyone


Aku tidak tahu harus menuliskan apa. Jujur, ingin sekali rasanya melakukan sesuatu, tapi tidak ada daya sama sekali. Lemah hanya bisa menonton, menunggu berita, dan terus memantau perkembangan. Seperti melihat Ibu kita sedang diperkosa di depan mata, Israel melakukannya lagi. Ya, lagi dan lagi. lagi dan lagi. lagi dan lagi. Sampai kapan? Pertanyaan yang tidak pernah selesai --mungkin sampai hari qiyamat datang.


Aku tidak tahu harus menuliskan apa. Jujur, ingin sekali rasanya pergi kesana. Menangis bersama mereka, berdarah-darah bersama mereka. Tapi, tidak ada kekuatan sama sekali. Lemah dan hanya bisa melihat. Hari ini "Mavi Marmara" tersandra Israel. Baru beberapa jam yang lalu. Dunia bereaksi begitu hebat, dia menyentak kesadaran, khususnya Indonesia. Baru beberapa orang yang tersandra di sana, tapi saya rasa itu memberikan penyadaran yang hebat bahwa Israel sedang memperkosa Ibu pertiwi kita. Nah, bagaimana dengan saudara kita di Palestina, di Gaza yang sudah diperkosa selama berabad-abad. Mavi Marmara seolah berkata kepada kita semua "Hei dunia kau kenapa? aku hanya seonggok kapal yang terperangkap dalam kepungan tentara Israel. Bagaimana dengan Gaza? Aku baru tertangkap beberapa jam saja, kalian sudah panik. Bagaimana dengan Gaza yang setiap hari selama jutaan hari tegang meregang nyawa. kalian ini aneh, benar-benar aneh?"


Saya tidak tahu harus menuliskan apa. Jujur, ingin sekali rasa berada di tembok Gaza, mengangkat senjata. Berjuang, walaupun hanya bisa membunuh dua atau tiga Israel terlaknat. Tapi, aku hanya bisa duduk dan mengetik. Hanya jemari yang bergerak-gerak menunjukkan ketidakmampuan berbuat apa-apa. Ahrgh!...


Aku berusaha menghibur diri dengan mengingat bahwa seorang muslim tidak akan pernah merugi. Dalam keadaan apapun. Gaza yang tersandra akan berbahagia dengan janji surga kalau dia bersabar. Mereka dekat dengan surga. Yang hanya bisa marah pun, bisa mendapatkan ganjaran baik dari Allah, kalau marahnya karena Allah. Tapi tentu saja, itu semua tidaklah cukup. Usaha kita terlalu kecil untuk menghibur diri dengan itu. Seharusnya kita melakukan hal yang lebih besar, kalau mau sama seperti Gaza yang sudah sangat dekat dengan surga.


Aku tidak tahu harus menuliskan apa lagi. Senjata terakhir adalah doa, dan juga usaha yang tiada henti dari saudara sesama muslim, sekecil apapun usaha itu. terakhir pertanyaan yang ingin saya katakan adalah, KAPAN KITA AKSI?

Blog EntryMay 29, '10 12:47 PM
for everyone

Kau menghilang, aku mencari-cari
menoleh tiap kali ada suara --mirip suaramu.
terkesima ketika dari jauh -jika langkah seorang mirip cara jalanmu.

Kau semakin menghilang aku mulai panik.
seringkali mendongak dengan mata mengawang
melamun sendiri, apa salahku?
atau --kau sudah tak mau lagi bertemu aku.

"Halo, kamu kemana saja? kenapa tidak pernah beri kabar... telpon aku ya! atu setidaknya balas smsku. Kalau kamu marah, katakan saja apa salahku. tolong jangan perlakukan aku seperti ini. ayolah! please! aku akan lakukan apa saja untuk senyummu lagi. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Oh tuhan, tolonglah buka hatinya lagi. Please!!!"

Kau menghilang sudah lama, aku tak tahu lagi --aku apa.
Aku semakin sering lupa dimana aku meletakkan kaca mataku --bahkan kadang-kadang aku tidak sadar kalau aku berak di celana.
Aku juga tak tahu kenapa aku cepat sekali lupa,
makanan tadi pagi, padahal ini baru pukul sembilan.
tubuhku mengecil akupun tak tahu kenapa.

kau menghilang sangat lama, aku tak lagi mencari.
karena aku datang ke rumahmu.
rumah ke--hilang--an.

kau hilang dalam hilangku
kita membangun rumah ke--hilang--an.


Blog EntryApr 28, '10 7:14 AM
for everyone
Hidup ini mengalir membawaku entah ke muara yang mana. Aku hanya berusaha bertahan. Namun terkadang aku juga jadi pasrah. Seperti daun kering, aku ikut saja ke mana angin dan juga riak sungai mendorong tubuhku. Aku sedang berjalan, tapi bisa juga kau sebut terombang-ambing.

Wajahmu yang setia menyiratkan senyum di hulu sana membuatku sedih. Air mataku tertahan di pelupuk mata ingin meledak. Memunctratkan semua dan melepaskannya ke dunia, biar dia juga ikut hanyut bersamaku. Hilang bersama riak air. Sepertinya, untuk melihat lagi gurat senyummu aku tidak sanggup lagi. Sedih harus meninggalkanmu. Senyum itu memberikan isyarat bahwa memang, semuanya harus tetap mengalir. Tanpa atau bersama dirimu.

Aku tak pernah tahu, di hilir bagian mana tubuh ini akan berhenti. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku bahagia bisa mengenalmu. Aku berterimakasih pata Tuhan, Dia telah membawaku singgah di tempat biasa kau bernyanyi. Walau pertemuan itu hanya sebentar saja dalam aliran hidup yang begitu deras. Tapi kau telah membuat bekas yang tak bisa aku hapus. Meskipun hanya sesaat dan aku tak tahu hilir bagian mana yang akan jadi penghentian terakhir aliran hidupku, aku benar-benar bahagia telah mengenal namamu.

Aku bersyukur pada angin. Pada bebatuan yang menggiringku ke arahmu. Juga pada air yang mendorongku serta pada takdir yang telah membawamu ada di hadapanku. Walau tidak sempurna aku mengenalmu, akan tetapi aku telah merasakan kepuasan sebuah pertemuan dengan hanya menatap wajahmu, senyummu dan juga suara manjamu. Kenikmatan sebentar yang akan segera berlalu dan akan kurindukan. Kebahagiaan sebentar yang akan kubawa menjadi bekalku mengarungi lagi lautan kehidupan selanjutnya. Melewati hilir-hilir berikutnya. Dengan atau tanpamu.

Mungkin aku tidak akan menemukanmu lagi di pemberhentian berikutnya. Aku mungkin akan merindukanmu, tapi Tuhan memberikanku sebuah 'Kenangan'. Mungkin semuanya bisa hilang. Mungkin semuanya bisa lenyap; wajah, paras dan juga saat-saat takdir mempertemukan kita. Namun, kenangan itu tidak akan hilang. aku janji. Dia akan hadir di setiap belokan sungai dan juga benturan yang akan aku hadapi esok. Ya, kenangan itu akan terpatri sebagai prasasi di kepalaku. dia akan datang sewaktu-waktu aku merindukanmu. sewaktu aku ingin mengingat kembali keindahan-keindahan yang telah kau berikan.

Terimakasih untuk semuanya. Beberapa waktu ini mungkin kau sedang menghilang. Kau mungkin kecewa bahwa aku akan segera pergi, kau juga mungkin dalam keadaan berusaha melupakan apa yang telah terjadi diantara kita. Aku paham. Aku juga berusaha untuk tidak terlalu terikat denganmu. semakin aku terikat semakin perih hati ini untuk bisa pergi. Aku mengerti kenapa kau akhir-akhir ini menjadi sangat jauh. Aku tahu, aku mungkin dan bahkan mustahil menjadi masa depanmu. Tapi, sekali lagi aku ingin mengatakan kepada semua orang, bahwa aku berterimakasih pada Tuhan, bahwa ia telah mengenalkanmu kepadaku.

Aku tidak akan mengingkari bahwa pertemuan yang telah Tuhan atur itu, memang tidak berakhir terlalu baik. Namun, aku hanya akan berdoa semoga, semoga kita semua bisa mendapatkan yang terbaik untuk kebaikan kita semua. Di dunia dan di Akhirat kelak. Aku memang tidak tahu hidup ini mengalir membawaku entah ke muara yang mana. Yang pasti, aku bahagia pernah mengenalmu. Itu saja.

NoteGUESTBOOK
   
creativeidea wrote on Jul 24, '10
tulisan yg lainx mana?
zahrajamilah wrote on Jun 20, '10
Met milad akhi, moga dberi kesehatan dan umur panjang yang manfaat... tercapai segala cita-cita. amin ^_^
creativeidea wrote on Jun 20, '10
kok tampilan mp atm sama dg rama? pake2 lampu
dhaimasrani wrote on Jun 19, '10
Assalamualaikum wr wb

Mas Syabli....

Met Milad, semoga semakin berkah usianya.....amin
syabli wrote on May 30, '10
mampir...
Salam kenal
salam kenal juga :)
Pages:12345